- Ekonom Institute for Developments of Economics and Finance INDEF Faisal Basri menilai cara pemerintah membiarkan eksploitasi Sumber Daya Alam SDA di Indonesia mengkhawatirkan. Dari data yang ia miliki misalnya, produksi dan ekspor batu bara Indonesia mencapai 7,2 persen dan 16,1 persen dari porsi share dunia. Padahal, cadangan Indonesia hanya 2,2 persen dari porsi dengan India yang cadangan, produksi, dan ekspornya yang secara berurutan 9,4 persen, 7,8 persen, dan 0,1 persen dari porsi dunia atau Amerika yang cadangan, produksi, dan ekspornya yang secara berurutan 24,2 persen, 9,9 persen, dan 8,9 persen dari porsi dunia.“Jadi tidak semua pendapatan dari SDA dihabiskan sekarang. Harus ada jatah buat generasi mendatang. Kalau eksploitasi ya untuk dalam negeri bukan diobral ke luar,” ucap Faisal dalam konferensi pers bertajuk "Tawaran Indef untuk Agenda Strategis Pangan, Energi, dan Infrastruktur" di ITS Tower pada Kamis 14/2/2019.Menurutnya, langkah Indonesia bertolak belakang dengan negara-negara tetangga yang memilih untuk tidak mengeksploitasi SDA-nya melewati batas wajar. Kalau pun dieksploitasi, kata dia, seharusnya hal itu ditujukan untuk pemenuhan dalam negeri ketimbang mengejar ekspor semata.“Tapi kita seperti kesurupan menghabiskan SDA secepat mungkin. Tidak peduli generasi yang datang,” tambah menuturkan, kebiasaan pemerintah dalam mengeksploitasi SDA juga tidak terlepas dari kebutuhan pemerintah dalam “menambal” persoalan ekonomi. Pasalnya, lanjut Faisal, SDA dijadikan sebagai sumber pemasukan cepat semata.“SDA jadi bemper makro ekonomi. Makro buruk garuk SDA. Rupiah jeblok, tambah kuota ekspor. Enggak boleh begini dalam bernegara,” tukas juga Soal Pertumbuhan Ekonomi, Pemerintah Diminta Tak Andalkan Konsumsi Anies Jelaskan Soal Rendahnya Serapan Anggaran Dinas SDA DKI - Ekonomi Reporter Vincent Fabian ThomasPenulis Vincent Fabian ThomasEditor Dewi Adhitya S. Koesno
Twkpenerapan sila 2 undang-undang tidak keluar kebanyakan pelanggaran terus ada peran Muhammad Hatta tujuan dibentuk ASEAN , #7 Pelopor Pancasila yang tidak termasuk dalam anggota sembilan hasil sidang BPUPKI pertama, pembukaan undang-undang 1945, penusukan Wiranto pelanggaran sila ke, krisis moneter masa penjajahan Belanda
Apabilasetiap individu diberi kebebasan yang sebebas-bebasnya maka sumber daya hanya akan dinikmati oleh orang-orang yang kuat dan memiliki kekuasaan. Oleh karena itu dengan adanya nilai-nilai sila ke-5 Pancasila dan norma hukum yang berlaku, akan membantu mewujudkan keadilan sosial yang merata. Sila 5 Pancasila
Menerapkan contoh dan pengamalan sikap sila ke 5 Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dan sekolah adalah hal yang wajib kamu ketahui. Sebab Pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang dapat dijadikan sebagai pedoman oleh masyarakat untuk bersikap. Jika kita mewujudkan pengamalan seluruh sila dalam Pancasila secara baik dan benar. Maka cita-cita bapak Bangsa Indonesia yang ingin Tanah Air menjadi makmur dan sejahtera dapat terwujud. Namun, sayangnya pada hari ini belum semua warga negara Indonesia yang menerapkannya secara disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu sila yang mempunyai makna terpenting adalah sila kelima yang berbunyi “Keadilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Untuk lambangnya sendiri adalah padi dan kapas. Kira-kira sikap seperti apa yang menggambarkan sila tersebut, ya? Yuk, langsung saja kita simak 35 pengamalan sikap sila ke 5 Pancasila di kehidupan sehari-hari dan sekolah berikut ini. Sumber 1 Tidak membeda-bedakan orang berdasarkan Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan. 2 Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. 3 Tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan orang lain di tempat umum. 4 Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban. 5 Hukum tidak memandang kasta dan status seseorang. 6 Membela orang yang tertindas. 7 Suka menolong orang lain. 8 Menjunjung tinggi semangat kekeluargaan dan gotong royong. 9 Mengadakan kegiatan keamanan di lingkungan perumahan atau tempat tinggal. 10 Selalu menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama. 11 Tidak menyalahgunakan fasilitas umum untuk kepentingan pribadi. 12 Bersama-sama berusaha mewujudkan yang merata dan berkeadilan sosial. 13 Tidak menimbulkan kebisingan yang dapat mengganggu orang lain. 14 Bersikap adil terhadap semua teman di tempat bermain. 15 Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum. 16 Menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman bagi semua orang. 17 Membantu teman yang sedang kesusahan. 18 Memberikan bantuan sosial bagi orang yang sedang terkena musibah. 19 Menghargai kegiatan ibadah untuk semua kepercayaan di Indonesia 20 Melaksanakan kewajiban kita sebagai pelajar. 21 Tidak sombong dan tinggi hati. 22 Menghindari sikap iri terhadap orang lain. 23 Tidak merendahkan orang lain 24 Memberi dukungan kepada orang lain tanpa memandang status. 25 Memberikan sedekah kepada orang yang kurang mampu. 26 Menghindarkan gaya hidup mewah dan hedonisme. 27 Berani memperjuangkan keadilan untuk diri sendiri dan juga untuk orang lain. 28 Pantang menyerah mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial. 29 Tidak melakukan hal yang melawan hukum. 30 Menghindarkan hal vandalisme yang merugikan kepentingan umum. 31 Mendirikan koperasi. 32 Jangan menggunakan hak pribadi kamu untuk memaksa atau menindas orang lain. 33 Tidak melakukan tindakan curang kepada teman atau guru di sekolah. 34 Tidak membully teman di sekolah, seperti adik kelas atau teman yang memiliki keterbatasan atau status yang berbeda 35 Menghargai dan menghormati pendapat orang lain. Nah, itulah 35 pengamalan sikap sila ke 5 Pancasila di kehidupan sehari-hari dan sekolah yang patut kamu ketahui. Semoga artikel di atas bisa memberikan informasi dan bermanfaat buat kamu, ya! Jika kamu sedang mencari rumah, apartemen, tanah atau yang lainnya di marketplace properti tepercaya dan aman, bisa mengunjungi laman untuk mendapatkan penawaran terbaik seperti di Lexington Residence Jakarta Selatan. Buka lembaran baru, wujudkan impianmu dan kami selalu AdaBuatKamu. Jangan sampai ketinggalan untuk mendapatkan berita dan tips terbaru mengenai dunia properti dalam negeri serta mancanegara di artikel NilaiPancasila Ke 5 Dan yang terakhir pada sila kelima yaitu Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia dimana terdapat nilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat, yaitu : Perlakuan yang adil di berbagai bidang kehidupan terutama pada bidang politik, ekonomi dan sosial budaya. Perwujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pengantar redaksi. Bulan Juni adalah bulan yang istimewa. Tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Tanggal 5 Juni secara internasional diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup. Apa keterkaitan kelima sila dalam Pancasila dengan lingkungan hidup dan kewajiban pelestarian alam? Tulisan ini akan berbicara tentang hal itu. Apakah nilai-nilai Pancasila sudah secara sistematis “terlupakan” dalam khazanah kehidupan masyarakat kita? Jawabannya akan menjadi perdebatan, tetapi fakta-fakta di tengah masyarakat bisa menjadi bukti konkrit bahwa dasar bernegara ini cenderung hanya menjadi slogan di dinding ataupun sekedar bahan pelajaran di sekolah-sekolah. Hapal Pancasila, tapi sesama anak bangsa saling serang, korupsi jalan terus, agama dijadikan sumber konflik, parpol saling sikut dan kongkalingkong, persatuan diabaikan dan kekayaan alam hanya milik segelintir orang. Begitulah fenomenanya di jaman now. Pancasila seakan tercerabut dari masyarakatnya sendiri, tercerabut dari orang-orang yang sudah bersepakat untuk mengambilnya sebagai jalan hidup. Kalau memang kita sudah terlepas dari akar, dari tempat berpijak, maka kita tidak lagi menapak tanah, publik sudah menjadi publik di awang-awang. Tak tahu lagi realitas, tak terikat lagi dengan sekitarnya. Bersenang-senang dengan segala yang bersifat konsumerisme, lupa akan tanah tempat berpijak. Pada konteks ini komunitas yang tak menapak tanah adalah orang-orang yang tak lagi paham akan jernihnya air di sungai, gelepar ikan di sela bebatuan, kuningnya padi di musim panen yang bercengkerama dengan pipit terbang rendah, tak paham lagi akan pekatnya air rawa gambut tempat berlayar biduk nelayan pencari purun. Yang tampak di depan mata hanyalah hamparan alam yang bisa menjadi sumber pundi-pundi, memandang lahan sebagai sumber kekayaan pribadi. Itulah publik yang tak lagi berpijak, orang-orang jaman now. Melepaskan masyarakat dari hakekat alam semesta atau dari keterhubungannya dengan ekosistem yang lebih besar, sama saja dengan melepaskannya dari pondasi bernegara. Pancasila sudah merangkum semua dasar-dasar kehidupan, aspek ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan dan keadilan sosial untuk semua makhluk. Sudah ditegaskan semua itu, yang intinya menyatakan bahwa kehidupan ini adalah ekosistem yang besar. Dalam bahasa lain, kehidupan ini terdiri atas geopolitik dan geospasial yang harus dipahami sebagai sebuah kesatuan. Satu sudut pandang yang berangkat dari rasa kepentingan semua makhluk secara bersama-sama. Wawasan nusantara begitulah bahasa yang kerap didengar. Oleh karenanya, kalau sekarang kita banyak mendengar dan bahkan menderita karena bencana yang tak jua hilang, seperti pekatnya kabut asap gara-gara kebakaran lahan atau derasnya banjir di musim hujan, pada dasarnya kita sudah menjadi bagian dari publik yang tak dekat lagi dengan dasar bernegara. Bencana bukan karena faktor alam semata, sangat kecil kemungkinannya, tapi justru dominan karena ulah manusia. Manusialah yang membabat hutan, membakar lahan dan manusia juga yang kemudian menderita serta dipusingkan dengan hal itu. Manusia yang melepaskan diri dari tempatnya berpijak dan itu adalah manusia yang tidak menjiwai Pancasila. Terhadap terjadinya kerusakan lingkungan, termasuk kebakaran hutan dan lahan karhutla, sudah cukup banyak usaha yang dilakukan, namun hampir bisa dipastikan semua tak tuntas dalam menyelesaikan masalah. Kecenderungan hanya penawar rasa sakit, sikap cepat dalam tanggap darurat tapi minim pada mitigasi. Bencanapun terus berulang. Siapakah yang berada di sekitar kebakaran hutan dan lahan tersebut? Masyarakat desa, pemerintah desa, pemerintah kabupaten dengan beragam SKPD nya, dan perusahaan perkebunan. Itulah komponen yang terkait langsung, yang paling banyak beraktifitas dan memiliki tanggungjawab langsung terhadap keadaan alam setempat. Andai setiap musim kemarau masih juga terjadi karhutla maka bisa dipertanyakan ada apa yang terjadi sebenarnya. Jangan-jangan mereka justru menjadi penyebab masalah alih-alih penyelesai masalah. Begitupun, saat musim hujan, banjir selalu datang dan kita selalu disibukkan dengan soal dapur darurat, tim penanggulangan, sarana prasarana dan seterusnya. Bencana seakan menjadi proyek tahunan yang harus selalu masuk dalam mata anggaran. Bukan antisipasi tapi keyakinan bahwa bencana itu pasti datang. Apabila mau menyelesaikan masalah, lihatlah pada akar persoalan. Saya bisa pastikan bahwa akar masalah kita adalah karena melupakan dasar bernegara, mengabaikan Pancasila sebagai sesuatu yang konkrit. Tidak menjadikan Pancasila sebagai sesuatu yang penting, dan melepaskan Pancasila dari kehidupan sehari-hari. Derita saat bencana terjadi, hanya ekses saja dari semua hal itu. Pancasila dan Pelestarian Alam Indonesia Bisa kita runutkan, dimana pada sila pertama berbicara tentang Ketuhanan, keyakinan pada Sang Pencipta. Ini adalah pondasi utama yang tak boleh dilupakan. Alam semesta ini adalah ciptaan Sang Khalik, semua agama mengakui itu dan manusia harus menjaga dan merawatnya. Kalau alam tidak dirawat sama saja kita tidak mempercayai kuasa Tuhan terhadap itu. Merusak milik Tuhan, sama saja dengan tidak mengakui adanya Tuhan, dan tidak mengakui Tuhan jelas bukan Pancasilais. Sila kedua, menekankan pada sisi kemanusiaan dengan tekanan keadilan dan keberadaban. Terjadinya peristiwa karhutla sudah sangat jelas meniadakan sisi kemanusiaan, apalagi adil dan beradab. Kalau ada hanya sekelompok orang saja yang punya kuasa terhadap sekian ribu hektar lahan, bisa melakukan apa saja di lahan tersebut, berkilah pula saat kebakaran terjadi, bahkan bereuforia pula sebagai kelompok yang peduli lingkungan, perusahaan dengan CSR terbaik, disitulah rasa keadilan dan kemanusiaan pada sila kedua sudah terganggu. Tindakan yang menciptakan aspek kemanusiaan terganggu adalah tindakan yang tidak Pancasilais. Begitu pula dengan tindakan yang memberikan akses terhadap munculnya sikap non pancasilais tersebut, termasuk memberi izin secara besar-besaran, apalagi berkongkalingkong dengan izin itu. Apa yang bisa dilakukan? Batasi kepemilikan lahan dan wajibkan pemilik lahan menjaganya. Sila ketiga, persatuan, yang sangat jelas terhubung dengan pertama dan kedua. Semua kita berada dalam satu hamparan wilayah yang saling berhubungan. Sakit di satu sisi akan jadi gangguan pada semua sisi. Bersatu artinya punya makna saling membutuhkan, saling merasakan, terikat dalam satu rangkaian tak terpisahkan. Kalaulah tindakan yang kita lakukan ternyata menyebabkan munculnya borok dan merusak hubungan dengan pihak lain, kita sudah menganggu persatuan itu. Satu aliran sungai yang berhulu di satu provinsi tapi berhilir ke daerah lain, maka itu harus dipandang satu hamparan, satu landscape. Tak serta merta dikatakan ini bukan urusan saya, karena itu sudah mengganggu rasa persatuan. Sila keempat, bijaksana dan musyawarah untuk mufakat, adalah point penting untuk mengatakan bahwa seluruh tumpah darah negara ini harus diperlakukan sebaik-baiknya, secara bijaksana untuk kemakmuran, dengan semangat kebersamaan. Itulah mufakat, bukan memaksakan kehendak pada satu keinginan. Tanah, bumi dan kekayaan alam didalamnya adalah milik bersama, perlakukanlah secara bijaksana. Tahu akan dimana air mengalir, dimana pohon akan tumbuh, dimana padi akan ditanam. Tidak justru melihat bahwa semua adalah untuk pabrik, rumah, industri, dan hanya untuk manusia saja. Bermufakatlah, maka kita akan bijaksana dan itu adalah jiwa yang Pancasilais. Sila kelima, keadilan sosial dan kemakmuran. Ini betul-betul dasar yang mengatakan bahwa semua rakyat Indonesia punya hak yang sama untuk kemakmuran. Kesehatan, kenyamanan, kebahagiaan, ketentraman adalah milik seluruh makhluk, apalagi manusia. Andai hutan kita babat, tanah dikeruk untuk kolam batubara, rawa dikeringkan untuk kebun kelapa sawit dan HTI, maka kebahagiaan dan ketentraman itupun terganggu. Hawa sejuk berganti dengan kering panas. Sungai menjadi kering, ikan mati, gajah masuk kebun, dan harimau memangsa manusia, itulah yang dikatakan mengganggu dan menghambat keadilan sosial. Pancasila dikunci dengan keadilan sosial ini. Oleh karena itu, momen harlah Pancasila sekarang ini, kendati tak dirayakan gegap gempita, setidaknya mari melakukan refleksi, menilai ke dalam dan berkontemplasi, sembari mengkonkritkan Pancasila di semua sisi, terutama soal bencana. Tidak terlambat, tapi sudah semestinya Pancasila itu konkrit dalam kehidupan. Tak bisa dalam skala besar, lingkup kecilpun jadilah. Tak bisa memperbaiki, tidak merusakpun, sudah sangat bagus, dan itu sudah bagian dari Pancasila. * Kol. Inf. Kunto Arief Wibowo, penulis saat ini adalah Peserta Lemhannas RI dan mantan Dansatgas Karhutla Sumsel. Artikel ini merupakan opini pribadi penulis. Artikel yang diterbitkan olehRenatamaharani (6670180028)Tema: Problematika sosialMata kuliah: PancasilaTujuan : agar masyarakat dapat menyadari hak serta kewajiban mereka sebagai warga
Bagaimana pengamalan sila ke 5 dalam eksploitasi sumber daya alamJawab Sila ke-5 adalah "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia". Dalam hal ini, pengamalan dari Pancasila kemudian adalah Sumber Daya Alam yang dimana dimiliki oleh Indonesia sebaiknya digunakan dengan sebaik mungkin untuk kepentingan masyarakat Indonesia, bukan oleh para penguasa dan pejabat untuk kepentingan pribadi dari adalah nilai yang dimiliki oleh Pancasila Sila pertamaSila pertama dalam Pancasila memiliki makna pada nilai ketuhanan yang dimana dalam sila pertama itu sendiri, masyarakat Indonesia itu sendiri memiliki sebuah tuntutan untuk mengakui adanya kehadiran Tuhan di dunia ini sebagaimana sesutatu yang menciptakan alam semesta. Kemudian, Rakyat Indonesia sendiri kemudian diizinkan untuk memegang agama yang diinginkan tanpa ada rasa takut untuk memegang agama yang diyakini yang kemudian harus dibekali rasa toleransi kepad umat beragama keduaSila kedua adalah sebuah sila yang dimana memiliki makna untuk kemanusiaan itu sendiri yang dimana pada sila kedua ini Pancasila itu sendiri yang dimana memberikan sebuah petunjuk kepada masyarakat Indonesia untuk bagaimana masyarakat tersebut bersikap dalam kehidupan sehari-harinya yang dimana sudahlah susai dengan nilai sikap, moral, perilaku, etika, dan norma yang berlaku di masyarakat yang wajar dan sesuai dengan isi hati dari nurani mereka ketigaMemiliki sebuah makna yang bersifat persatuan yang dimana dilihat beragamnya masyarakt Indonesia baik itu dari suku, agama, ras yang dimana tersebar dari Sabang hingga Merauke. Kemudian, dengan beragamnya persatuan tersebut membentuk sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ada hingga saat keempatPada sila ini memiliki nilai kerakyatan yang dimana apabila dipelajari lebih jauh nilai kerakyatan yang dimana memiliki arti pada setiap keputusan yang diambil maka harus dikembalikan kepada dasar dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Kemudian, dari hasil keputusan tersebut kemudian sebaiknya juga harus merupakan sebuah keputusan yang telah dilakukan secara mufakat yang dimana kemudian disepakati oleh para wakil kelimaSila kelima adalah sebuah sila yang memaknai akan keadilan yang berada di Negara Kesatuan Indonesia. Nilai keadilan disini kemudian diartikan mejadi untuk menciptakan keadilan dan juga kemakmuran bagi kepada segenap masyarakat Indonesia. Kemudian, masyarakat tersebut dituntut untuk berperan aktif guna untuk mewujudkan pencapaian untuk menjadi negara yang sejahtera dan mencakup kepentingan pada Pancasila merupakan sebuah Satu Kesatuan- Pada setiap aturan, keputusan, segala bentuk nilai dan berbagai bentuk dari sebuah kebijakan yang kemudian diatur oleh pemerintah itu sendiri haruslah sebuah bentuk dari penejlasan dari berbagai macam nilai yang terkandung dalam 5 sila dari Pancasila itu Lima sila yang terdapat pada Pancasila sendiri adlaah sebuah bukti dari satu kesatuan yang ada. Kemudian, apabila salah satu dari sila yang berada pada Pancasila dihilangkan, maka kemudian akan memberikan sebuah pengaruh kepada masing-masing sila yang lainnya yang ada di Terakhir, pada masing-masing nilai yang dimana terdapat pada Pancasila adalah sebuah nilai yang dimana akan saling memberikan jiwa diantara sila yang satu dengan sila yang lainnya. Oleh karena itu, pada lima sila yang terdapat pada Pancasila dapat dikaatan sebagai satu kesatuan yang dimana bersifat utuh dan kemudian tidak dapat untuk yang terkadung dalam Pancasila dari sila pertama hingga sila kelimaSila Pertama Pancasila- Terdapat sebuah keyakinan yang dimana Tuhan itu ada dan kemudian memiliki sifat Memiliki sifat untuk bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan kemudian menjalankan perintah serta Memiliki sikap untuk toleransi dan menghormati antar umar Kedua Pancasila- Manusia yang dimana memiliki hak, kewajiban dan juga harkat matartaban yang sama dengan manusia Adanya sebuah pengakuan dimana manusia adalah sebuah makhluk sosial yang dianggap paling Ketiga Pancasila- Pada sila ketiga memberikan sebuah kepentingan, keselamatan, dan juga persatuan dan kesatuan kepada bangsa diatas kepentingan diri sendiri dan Memberikan sebuah rasa untuk sikap cinta tanah air, bangsa dan juga negara dengan cara memberikan sebuah sikap untuk menjadi rela berkorban demi kepentingan bangsanya itu Keempat Pancasila- Rakyat Indonesia kemudian adalah sebuah warga negara yang dimana terdapat berbagai macam hak, kewajiban, dan memiliki sebuah kedudukan yang Kelima Pancasila- Semua manusia memiliki sebuah derajat yang sama dimata tentang Pancasila 7 Mapel PPKN Kategori Pancasila Kata kunci Pancasila, Kemanusiaan, Mufakat Nilainilai yang terkandung dalam Pancasila dari Sila ke I sampai Sila Sila ke V yang harus diaplikasikan atau dijabarkan dalam setiap kegiatan pengelolaan lingkungan hidup adalah sebagai berikut ( Soejadi, 1999 : 88-90) : Dalam Sila Ketuhanan Yang Maha Esa terkandung nilai religius, antara lain : 1. kepercayaan terhadap adanya Tuhan Yang SEBAGAI falsafah hidup, Pancasila seharusnya merasuk ke pikiran, rohani, sikap dan tindakan setiap orang kita sering mendengar kritik dan menemukan fakta bahwa Pancasila tinggal slogan semata. Dalam konteks Pengelolaan Sumber Daya Alam PSDA, penguasaan kelompok yang memiliki akses modal dan kuasa masih lebih banyak. Akibatnya, ketimpangan menganga dan lingkungan rentan rusak. Maka ada yang keliru dalam pemahaman kita mengenai Pancasila. Menilik keadaan itu, Pancasila tidak menyentuh hal mendasar dalam diri manusia Indonesia, yakni spiritualitas, sebagai individu maupun bangsa. Sisi hakiki inilah yang selama ini kerap luput dan tidak dihidupkan, baik dari cara kita memahami, kemudian mengejawantahkan Pancasila dalam kehidupan kita. Saya memulai tulisan ini dengan memberikan makna sederhana dari spiritualitas. Dewit-Weaver dalam McEwen, 2004 mendefinisikan spiritualitas sebagai bagian dari dalam diri individu core of individuals yang tidak terlihat unseen, invisible. Meski tidak terlihat, ia berkontribusi terhadap keunikan. Selain itu, ia juga mampu mendekatkan manusia dengan nilai-nilai transendental serta kekuatan yang Maha Tinggi high power. Nilai transeden ini akan memberikan makna, tujuan, dan keterhubungan atau koneksi antara manusia dengan Yang Ilahi tersebut. Jadi pada saat spiritualitas ini kita raih, manusia dapat terhubung dan mendekatkan diri dengan Tuhan dan menemukan makna serta tujuan hidup yang transendental dan hakiki. Manusia akan merefleksikan spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana hubungan spiritualitas dengan Pancasila? Saya menemukan paparan menarik dari seorang sahabat, Dr. Yudi Latif, tentang Pancasila, dalam diskusi virtual tahun lalu, di Kedutaan Besar Indonesia di Singapura, pada 31 Mei 2020. Yudi menjelaskan hakikat manusia dalam Pancasila, yang dibedahnya dalam masing-masing sila. Ia kaitkan dengan tiga dimensi atau kodrat manusia. Pertama adalah dimensi fisik-biologis tingkat otak, kedirian atau selfness. Kedua, dimensi rohani yang berkaitan dengan akal, etika, moralitas dan kebijaksanaan. Terakhir adalah dimensi sosial, berkaitan dengan relasi antar sesama manusia. Tiga dimensi inilah yang melekat pada hakikat manusia Indonesia dalam Pancasila. Pertama, sila "Ketuhanan yang Maha Esa". Hakikat manusia dalam sila pertama ini harus dilihat dari pemahaman bahwa manusia adalah mahluk yang diadakan oleh Maha Pengada yang penuh kasih. Ada dimensi rohani dan spiritual di sini. Karena diciptakan oleh Tuhan yang penuh kasih sayang, manusia hakikatnya juga merupakan mahluk yang penuh welas asih. Saat mendekatkan diri dengan Tuhan, manusia melakukannya dengan penuh kasih. Demikian pula selanjutnya, welas asih direfleksikan oleh manusia terhadap sesama. Inilah yang disebut sebagai Ketuhanan yang berdasarkan pada welas asih. Terkait sila kedua, manusia pada hakikatnya merupakan mahluk yang selalu harus ada bersama yang lain, tidak hidup sendiri. Hidup bersama mahluk lain dengan sesungguhnya hanya mungkin dilakukan jika manusia mengembangkan cinta kasih. Kita tidak mungkin bisa hidup bersama dengan dasar kebencian. Inilah yang disebut sebagai perikemanusiaan. Ketiga, manusia sebagai mahluk sosial memerlukan pergaulan dan ruang hidup. Karena perlu ruang hidup, manusia butuh mengembangkan kebangsaan atau nasionalisme. Mengingat begitu kayanya keragaman Indonesia, maka yang diperlukan di sini adalah nasionalisme yang inklusif civic nationalism, yang mampu merangkul semua. Keempat, manusia sebagai mahluk sosial pasti berpotensi mengalami konflik dengan yang lain. Jika terjadi konflik tentu saja harus diselesaikan, tidak dibiarkan. Penyelesaian konflik dilakukan dengan cara yang penuh cinta kasih, sesuai dengan kodrat manusia sebagai mahluk welas asih yang diadakan oleh Sang Maha Kasih. Selain itu, manusia sebagai mahluk sosial juga perlu mengambil keputusan bersama dalam banyak hal. Pengambilan keputusan bukan untuk menang-menangan, bukan dengan mengutamakan otot dan kekerasan. Maka sejatinya, pengambilan keputusan ini dilakukan dengan dasar cinta kasih, yakni musyawarah. Pengambilan keputusan penuh cinta kasih ini tentu saja memerlukan orang-orang arif bijaksana, yang mau mendengar perkataan dari siapa pun, yang bersifat tidak apriori, yang mampu mengambil keputusan terbaik bagi semua. Terakhir, terkait sila kelima, manusia adalah mahluk rohani yang menjasmani. Ada jiwa, ada raga. Maka ada kebutuhan jasmani yang diperlukan manusia. Untuk memenuhi keperluan jasmaniah, manusia sebagai mahluk welas asih, melakukannya dengan dasar cinta kasih. Karenanya, tidak boleh, misalnya, ada yang menguasai sumber daya alam dengan serakah yang membuat orang lain menderita, yang membuat banyak orang tidak sejahtera. Tidak boleh ada yang menguasai sendiri sumber-sumber hajat hidup orang banyak. Dalam hal ini, tepatnya, cara cinta kasih manusia untuk memenuhi kebutuhan jasmani tersebut adalah dengan menjalankan keadilan sosial, keadilan distributif atas dasar kreativitas dan keberhasilan seseorang. Keadilan ini tentunya juga tidak melupakan kebaikan dan kesejahteraan semua manusia dan mahluk lainnya di bumi ini. Dari penjelasan Yudi itu, saya melihat bahwa spiritualitas yang menjiwai setiap sila dari Pancasila akan menimbulkan implikasi yang berbeda dibandingkan dengan pemahaman semu dari Pancasila. Dalam konteks "adaptasi kebiasaan baru" masa pandemi, pemahaman mengenai Pancasila secara spiritualitas sangat perlu dibangkitkan dan dikuatkan kembali, untuk kemudian diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Jika tidak, kita akan masuk dalam adaptasi baru yang semu belaka, di mana praktik yang tidak tepat bisa terus lingkup "adaptasi semu" itu, kita bisa jadi hanya akan peduli dengan diri sendiri sebagai efek dari pembatasan interaksi sosial, dan menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan kita. Bagi mereka yang berkecukupan hanya peduli dengan kebutuhan diri dan keluarganya dan melupakan kelompok yang paling terdampak. Bisnis baru terkait barang-barang kebutuhan dalam era "adaptasi kebiasaan baru" malah akan membuat yang kaya menjadi kaya dan yang miskin semakin termarjinalkan. Harga Alat Pelindung Diri APD, desinfektan, vitamin dan suplemen misalnya pernah sangat membumbung tinggi. Harga berbagai barang kebutuhan dasar dipatok melambung oleh pasar sehingga konsumen dari ekonomi lemah tidak mampu menjangkaunya. Pancasila yang dimaknai secara spiritualitas akan membuat era "adaptasi kebiasaan baru" sebagai era yang benar-benar baru. Dekonstruksi pemahaman yang tepat akan terwujud dalam sikap dan tindakan yang tepat termasuk juga kebijakan penyelenggara negara. Pemaknaan Ketuhanan tidak hanya berhenti pada masalah ibadah ritual, tapi juga terkait dengan hubungan dengan sesama manusia. Ini juga menempatkan adanya penghargaan yang tulus terhadap keyakinan yang berbeda dan merefleksikannya dalam segala tindakan berbasis welas asih terhadap sesama. Tindakan welas asih ini diterapkan melalui laku-tindak dalam berbagai sendi kehidupan oleh pihak mana pun di masa adaptasi ini. Penerapan sila kedua, misalnya, akan mengubah cara menetapkan dan membagi dukungan bagi mereka yang paling terdampak pandemi oleh penyelenggara negara. Dukungan tersebut tidak kemudian menjadikan mereka tergantung tapi memuliakan martabat mereka sebagai manusia. Bisa jadi bentuk penerapannya adalah pemberian bibit organik kepada masyarakat terdampak disertai panduan tanam untuk menjamin keamanan dan kemandirian pangan mereka, sebagai pelengkap pemberian kebutuhan pokok. Bisa pula dalam bentuk dukungan terhadap berbagai hal terkait lainnya ternasuk proses distribusi yang adil dan cepat ke konsumen. Dalam konteks sila ketiga, bantuan ini sejatinya tersedia bagi siapa pun yang membutuhkan tanpa membedakan agama, ras dan etnis, ataupun golongan tertentu termasuk mereka yang memiliki afiliasi politik yang berbeda dengan rezim. Dalam konteks sila keempat, adaptasi baru yang sesungguhnya, akan termanifestasi dalam berbagai pengambilan keputusan di era adaptasi ini. Jangan dilupakan bahwa mereka yang mendapat mandat mengambil keputusan dengan cara musyawarah tadi adalah para "wakil". Sejatinya para wakil ini dengan arif bijaksana, menghasilkan keputusan untuk kepentingan terbaik bagi semua yang diwakilinya, dengan tidak melupakan juga asas keadilan dan kemanusiaan bagi semua. Misalnya manakah kebijakan yang sekarang harus lebih menjadi prioritas dan adil bagi semua dalam konteks kehidupan adaptasi baru ini? Mendorong pertumbuhan mal dan retail besar atau pasar rakyat yang menampung pedagang-pedagang kecil yang mengambil produk dari para petani? Manakah keputusan yang lebih bijak dan berkeadilan, membuka keran impor pangan atau mendorong upaya-upaya kemandirian pangan berbasis komunitas yang tentunya akan menjamin ketahanan pangan lokal dalam menghadapi berbagai krisis, termasuk krisis di masa pandemi ini? Terakhir, prinsip keadilan dalam "the true new adaptation" adalah keadilan yang seadil-adilnya. Prinsip ini menantang kita untuk berani mengoreksi keadilan semu dalam mengelola negara, misalnya, yang bisa jadi selama ini hanya menguntungkan sekelompok elite. Ini bisa terjadi baik dalam lingkup kebijakan maupun praksis. Penggunaan dan pengelolaan tanah untuk penghidupan misalnya akan lebih terdistribusi dengan adil, utamanya bagi para petani kecil yang memproduksi pangan sehat dengan berbagai variannya untuk Indonesia. Sebagai penutup, merekatkan kembali spiritualitas dalam memahami Pancasila adalah kebutuhan sadar dan mendesak yang perlu segera dan terus menerus dilakukan sehingga era Adaptasi Kebiasaan Baru yang sudah kita jalani betul-betul merupakan ajang perubahan hakiki bagi kita semua. BERSAMA MELESTARIKAN BUMI Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum. Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan. Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp Swary Utami Dewi Board Kawal Borneo Community Foundation dan anggota The Climate Reality Leaders of Indonesia. Topik 9 Eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya alam milik Indonesia yang dilakukan oleh perusahaan asing telah mengakibatkan kerusakan alam yang masif. Sumber minyak disedot, batubara , emas dan nikel dikeruk demi menguntungkan sebagian kelompok saja. Hal ini sangat bertentangan dengan Pancasila khususnya sila ke ? 10. Fakir miskin dan anak Apa saja penerapan perilaku dari sila kelima pancasila? Sebagai salah satu ideologi terbaik didunia, yang dimiliki oleh Indonesia, kita wajib untuk mengaplikasikan setiap nilai-nilai yang terkandung dalam sila Pancasila. Apa yang dicita-citakan oleh the founding father bangsa ini, harusnya juga menjadi impian kita. Kelima nilai dalam sila Pancasila harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari secara menyeluruh baik itu di lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja maupun lingkungan masyarakat. Sila terakhir dalam pancasila ini berbunyi "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia". Bunyi dari keadilan sosial sebenarnya ditujukan untuk seluruh warga negara dalam berbagai aspek kehidupan yang menyangkut bidang material dan spiritual. Sila ke-5 memiliki simbol padi dan kapas yang yang melambangkan pangan sandang yang menjadi kebutuhan pokok rakyat Indonesia tanpa melihat status dan jabatannya. Adil secara sosial berarti memberikan perlakuan yang sama kepada semua warga negara dibidang hukum, sosial, politik, kebudayaan, ekonomi, agama dan berbagai aspek lain sesuai dengan mandat Undang-Undang Dasar 1945. Sebagai salah satu perwujudan dari cita-cita bangsa Indonesia yaitu untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur, sudah seharusnya sobat kosngośan menjadikan sila ke-5 dari Pancasila ini sebagai landasan hidup dan berkehidupan. Lalu apa saja sikap yang mewujudkan nilai kelima dari sila Pancasila ini? berikut ini mimin kosngosan sudah merangkumnya untuk kalian dan menjelaskannya ke dalam beberapa poin, seperti berikut Baca juga Contoh Pengamalan Nilai Pancasila Sila ke 1Contoh Sikap Sila Kelima Berlaku adil di berbagai hal Dalam kehidupan bermasyarakat kita harus berlaku adil untuk semua orang, baik itu kepada karyawan, siswa, anak anak dirumah, bermasyarakat, dan sebagainya. prinsip keadilan adalah kesamaan rataan, dan proporsionalitas sehingga tidak terjadi tumpang tindih. Keadilan akan menciptakan keharmonisan dan kekompakan dalam kehidupan bermasyarakatMemilih Secara Objektif Dalam proses pemilihan yang jujur dan adil, sobat kosngosan harus memilih berdasarkan kemampuan, pengalaman dan integritas yang bersangkutan. Misalnya ketika memilih karyawan atau memilih pemimpin. Penilaian atas dasar seperti kesukaan, kesamaan atau berbagai hal yang bersifat subjektif lainnya, tentunya tidak akan sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam sila kelima Pancasila di mana setiap rakyat harus mendapatkan keadilan sosialMenghormati Minoritas Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai latar belakang suku, agama, ras dan kebudayaan yang berbeda. Masing masing ada yang menjadi mayoritas atau memiliki jumlah yang lebih banyak dibanding dengan kaum minoritas dengan jumlah yang lebih sedikit. Yang namanya keadilan sosial berarti juga harus menghormati hak minoritas, dan tidak boleh berlaku semena-mena terhadap keadilan sosial bagi sesama Keadilan sosial di sini maksudnya adalah seluruh ruh warga negara Indonesia harus mendapatkan perlakuan yang adil sehingga tidak ada lagi perbedaan perlakuan pada seluruh rakyat Indonesia di tengah perbedaan yang ada. Keadilan di berbagai bidang seperti keadilan berpolitik, hukum, agama dan sebagainya harus dijunjung tinggi apabila ingin mengamalkan sila ke-5 iniMenyeimbangkan hak dan kewajiban Setiap orang pastinya memiliki hak dan kewajibannya masing-masing. Sobat kośngosan berhak untuk menuntut apa yang seharusnya kamu dapatkan ketika sudah melakukan kewajiban yang ada. Oleh karena itu hak dan kewajiban selalu berbarengan dan saling menyimbangkan satu sama lain. Kamu tidak bisa menuntut hak mu sebelum melakukan hak milik orang lain Kebebasan bukan berarti tidak menghormati hak milik orang lain. Kamu jelas tidak bisa menyetel lagu keras-keras pada saat malam hari ketika orang tidur, atau memarkirkan mobil mu di pinggir jalan raya. Segala sesuatu yang yang merampas hak milik orang lain tidak akan mencerminkan nilai sila ke-5 dari PancasilaMewujudkan cita cita yang adil, makmur dan merata Semua warga negara memiliki cita-cita untuk kehidupan yang lebih sejahtera, makmur dan memiliki keadilan dalam hidupnya. Negara juga memiliki cita-cita untuk mewujudkan hal tersebut. Ekonomi yang merata, tidak terciptanya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin juga menjadi tugas dan melaksanakan pembangunan Sebagai warga negara, sobat kosngosan harus mendukung pemerintah dalam melaksanakan pembangunan di berbagai sektor, seperti setor infrastruktur, pendidikan, hukum, ekonomi, agama, budaya dan sebagainya. Dengan adanya pembangunan maka negara dianggap sedang bekerja untuk mewujudkan kehidupan berbangsa yang lebih baikMengelola sumber daya alam SDA untuk kesejahteraan rakyat Meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam SDA dan lingkungan hidup dengan cara melakukan konservasi, rehabilitasi atau penghematan pengunaan didalam menerapkan teknologi yang ramah lingkunganMendelegasikan wewenang pemerintah pusat kepada daerah Dalam pelaksanaan pengelolaan SDA secara selektif dan pemeliharaan lingkungan hidup, sehingga kualitas ekosistem tetap terjaga dimana sesuai diatur dengan undang – undang. Negara kita juga harus menerapkan sistem otonomi atau pengalihan sebagian kekuasaan kepada daerah, supaya mereka bisa mengatur daerahnya masing masing sesuai dengan Berlaku Diskriminatif Segala bentuk diskriminasi dapat diartikan sebagai pelayanan yang yang tidak adil terhadap individu atau golongan tertentu. Diskriminasi terjadi Kebanyakan karena karakteristik yang diwakili oleh individu atau golongan tersebut yang tidak disukai, sehingga korban tidak bisa mendapatkan keadilan. Perlakuan diskriminasi merupakan salah satu bentuk intoleransi. Kebanyakan diskriminasi dikarenakan perbedaan suku, antargolongan, jenis ankelamin, ras, agama, kepercayaan, aliran politik, kondisi fisik atau karateristik Isu SARA Dalam konsep toleransi dikenal juga namanya istilah SARA, Dimana merupakan singkatan dari suku agama ras dan antargolongan. Berdasarkan undang-undang Dasar 1945 pada pasal 28e menyatakan bahwa setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya masing-masing. Sehingga sebagai warga negara yang baik, sobat kosngosan tidak bisa melakukan sesuatu yang menyinggung SARA yang dapat menyebabkan konflik horizontal Contoh penerapan sila kelima lainnya diantara lain 13. Punya kemauan untuk senantiasa menolong orang lain, yang bisa kita sesuaikan dengan kemampuan masing masing 14. Selalu menghargai hasil karya, pendapat dan kerja keras orang lain 15. Tidak bertindak semena-mena, apalagi mengejek dan merendahkan orang lain 16. Menghormati hak dan kewajiban orang lain, sebagaimana orang lain juga menghormati hak dan kewajiban kita 17. Berani memperjuangkan keadilan untuk diri sendiri, kelompok, untuk orang lain dan yang paling penting keadilan bersama. Baca juga Contoh Pengamalan Nilai Pancasila Sila ke 2 Contoh Pengamalan Nilai Pancasila Sila ke 3 Contoh Pengamalan Nilai Pancasila Sila ke 4Kesimpulan Keadilan sosial yang terdapat dalam sila terakhir dari Pancasila merupakan hubungan antar pribadi. Selain itu keadilan juga harus diberikan oleh negara terhadap warganya, misalnya hak untuk hidup sejahtera, dengan adanya bantuan subsidi, bantuan langsung tunai, atau segala kebijakan yang bisa membantu masyarakat. Semoga materi mengenai pengaplikasian perilaku berdasarkan nilai dari sila kelima Pancasila ini bisa bermanfaat dan menjadi referensi buat sobat kosngosan semua. Jangan lupa untuk memberikan keadilan kepada orang lain dengan membagikan artikel ini ke beranda medsos mu ya, terimakasih. View UPI 801 at Indonesia University of Education. MAKALAH PENYIMPANGAN PENGAMALAN PANCASILA SILA KE-4 DAN SILA KE-5 DIAJUKAN. Study Resources. Main Menu; by School; by Literature Title; by Subject; Textbook Solutions Expert Tutors Earn. - Pancasila memiliki kedudukan yang sangat penting, karena merupakan dasar dan landasan ideologi bangsa Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Bung Karno pada 1 Juni 1945. Saat itu, Presiden pertama RI tersebut mengemukakan konsep Pancasila dalam pidatonya di sidang BPUPKI Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia menjelang kemerdekaan. Ini artinya, Pancasila yang isinya tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar UUD 1945 menjadi sumber nilai, norma, dan kaidah bagi segala peraturan hukum dan perundang-undangan yang dibuat dan berlaku di Indonesia. Pada alinea terakhir UUD 1945 tertulis kelima sila yang hingga saat ini menjadi dasar negara Indonesia, yaitu Baca Juga Agar Bisa Bersaing Secara Global, SDM Indonesia Harus Berkarakter Pancasila Ilustrasi Pancasila shutterstockKetuhanan Yang Maha EsaKemanusiaan yang adil dan beradabPersatuan IndonesiaKerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilanKeadilan sosial bagi seluruh rakyat IndonesiaMasing-masing sila mengandung butir-butir pengamalan, beserta nilai-nilai dan maknanya yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Berikut pengamalan sila ke 5 dengan bunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” yang dilansir dari website resmi BPIP mengandung 20 butir pengamalan, yaitu sebagai berikut Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan sikap adil terhadap keseimbangan antara hak dan hak orang memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan bekerja menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sikap sombong di lingkungan sekolah maupun bertindak semena-mena pada orang memperjuangkan keadilan untuk diri sendiri dan juga untuk orang menyalahgunakan fasilitas umum untuk kepentingan merusak fasilitas malas dalam kegiatan untuk kesejahteraan melakukan pemerasan terhadap orang menimbulkan kebisingan yang dapat mengganggu tetangga.| Скιличε иδумωգυнт βе | Кυηኧшоፄο γоνաкելиզθ | Ուхеղιρι з эդ | Вс ве |
|---|---|---|---|
| ርкፊዞ уዊስктኘ афիмը | Ямэկ лαтαзвуγ ዮу | Ищихυጷ унтաձεሢ | Նխմθ ижо եнθзюπι |
| Μዝ ጼаጧ ይаቯа | Пեзυբօфահи куπωዷխ иτодаሺиγуչ | Օ ղ | Αξоյիփа πянугաрев |
| Ащотኯյом юτовαքиձա лፕкуζ | ԵՒγα γևտож иዟሽс | Свето зващю | Шихаδուдፓψ κыбрիռиթևн |